WHISTLEBLOWER Seorang Pahlawan ataukah Pengkhianat

178 total views, 1 views today

Secara harfiah, whistleblower adalah peniup peluit sejenis yang digunakan dalam pertandingan sepakbola. Berbeda dengan justice collaborator, menurut Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4/2011, whistleblower adalah pihak yang tahu dan melaporkan tindak pidana tertentu namun bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya. Yang dimaksud tindak pidana tertentu dijelaskan dalam SEMA 4/2011, tindak pidana yang bersifat serius seperti tipikor, teroris, narkotika, pencucian uang (money laundering), perdagangan orang, maupun lainnya yang bersifat terorganisir, telah menimbulkan masalah dan ancaman serius terhadap stabilitas dan keamanan masyarakat sehingga meruntuhkan lembaga serta nilai-nilai demokrasi, etika dan keadilan serta membahayakan pembangunan berkelanjutan dan supremasi hukum.

Diterbitkannya SEMA 4/2011 mendasarkan Pasal 37 ayat 1 dan 2 United Nations Convention Against Corruption 2003 (Konvensi PBB Anti Korupsi Tahun 2003) yang telah diratifikasi berdasarkan UU 7/2006. Ketentuan serupa dalam Pasal 26 United Nation Convention Against Transnational Organized Crimes 2000 (Konvensi PBB Anti Kejahatan Transnasional Yang Terorganisasi Tahun 2000) yang telah diratifikasi berdasarkan UU 5/2009.

SEMA 4/2011 dimaksud agar tumbuh partisipasi publik guna mengungkap tindak pidana tertentu, karena masyarakat Indonesia belum terbiasa bersikap whistleblowing. Perasaan takut untuk menjadi whistleblower masih besar, karena memang tidak kecil resiko yang mungkin dihadapi. Dari ancaman turun pangkat, skorsing, dipecat, sampai ancaman nyawa atau keluarganya. Apesnya laporan whistleblower justru menjadi bumerang bagi dirinya. Disamping itu, terlapor bisa saja melaporkan balik whistleblowe pencemaran nama baik. Hal itulah yang menjadikan seseorang berpikir seribu kali untuk menjadi whistleblower, meskipun tahu persis telah terjadi tindak pidana.

Hanya seorang pemberani yang akan menjadi whistleblower, mengungkapkan fakta kepada publik mengenai sebuah skandal, malpraktek, korupsi dengan harapan kejahatan dan pelanggaran hukum tersebut berhenti.

Mantan Kabareskrim Polri, Komjen Susno Duadji, seorang whistleblower yang sangat popular di Indonesia. Atas keberaniannya mengungkap pelanggaran yang terjadi, beliau dinobatkan sebagai peraih Whistleblower Award 2010 dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas). Penghargaan tersebut diraihnya karena beliau dinilai memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh panitia, yakni laporannya berdasarkan fakta, bukan fitnah; memberikan dampak publik yang luas dan positif; bertujuan agar ada langkah-langkah konkret untuk perbaikan ke depan; tidak ada motivasi populerkan diri atau meraih keuntungan pribadi; serta menyadari sepenuhnya segala potensi risiko bagi dirinya atau keluarganya.

Di Amerika Serika kita tahu ada whistleblower bernama Jeffrey Wigand (1996) sebagai pengungkap skandal perusahaan The Big Tobacco. Perusahaan ini tahu bahwa rokok produk yang addictive, namun justru ditambahkan bahan carcinogenic (bahan berbahaya yang dapat menimbulkan kanker)di dalam ramuan rokoknya.

Baik whistleblower maupun justice collaborator, keduanya berhak mendapatkan perlindungan sebagaimana diatur UU 13/2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Pasal 10 UU 13/2006 mengatur: (1) Saksi korban dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporan, kesaksian yang akan, sedang atau yang telah diberikannya; (2) Seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama (justice collaborator) tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana.

Adapun hak yang dimiliki whistleblower: dapat memberikan kesaksian di depan persidangan tanpa menunjukkan wajahnya atau identitasnya, dan dapat memperoleh penghargaan. Jika ternyata whistleblower juga dilaporkan terlapor, maka penanganan perkara laporan whistleblower didahulukan daripada laporan terlapor. Whistleblower yang pada akhirnya juga menjadi tersangka atau terdakwa, berhak untuk dipisah tempat penahanannya dari tersangka atau terdakwa lain yang kejahatannya diungkap olehnya, serta pemberkasan perkara dilakukan secara terpisah dengan tersangka atau terdakwa lain dalam perkara tersebut.

Oleh karena whistleblower adalah seseorang yang melaporkan perbuatan yang berindikasi tindak pidana tertentu yang terjadi di dalam institusi tempatnya bekerja, maka dia memiliki akses informasi yang sangat memadai. Bagi kalangan tertentu, terutama yang memahami secara sempit makna esprit de corp (semangat korp) menganggap whistleblower sebagai pengkhianat. Akan tetapi, bagi masyarakat umum yang terhindarkan dari kerugian lebih besar akibat terjadinya suatu tindak pidana akan memandang whistleblower adalah pahlawan.

*Tulisan ini terlah dipublikasikan di koran Kebumen Ekspres.

2 thoughts on “WHISTLEBLOWER Seorang Pahlawan ataukah Pengkhianat

  • March 9, 2018 at 2:21 am
    Permalink

    ijin sebagai referensi Bapak

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *